Tuesday 21st November 2017

Contoh Kasus Bahayanya Penista Agama yang Tidak Segera Dihukum


Kerusuhan Situbondo 10 Oktober 1996, akibat kasus penistaan agama Islam. 

        Korban jiwa:
Pendeta Ishak Kristian (70 th),
Ny. Ribka Lena Kristian (istri, 67 th),
Elizabeth Kristian (Anak putri yang mau menikah bulan Desember, 24 th),
Rita (pekerja Gereja, 20 th) dan
Nova Samuel (Keponakan, 15 th),

21 Gereja, Sekolah Kristen/Katolik, Panti Asuhan dibakar, 9 dirusak dan dihancurkan./ http://sejarah-kelam-indonesia.blogspot.sg/ wikipedia.org.

RMOL. Kasus penistaan agama bisa berakibat sangat besar bagi kelangsungan serta kerukunan berbangsa dan bernegara. Terlebih jika sang penista tidak segera dijatuhi hukuman penjara.

Begitu kata mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli saat berbicara dalam acara di DPP PKB, jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (27/12).

Lebih lanjut, ekonom senior ini berkisah tentang contoh kasus penistaan agama yang terjadi pada tahun 1986 di era pemerintahan Soeharto.

Kejadian ini terjadi di Situbondo, Jawa Timur. Saat itu, ada seorang pemuda muslim bernama Abdul menistakan tuhan dan melecehkan Kyai Syamsul Arifin. Puluhan ribu rakyat di kampung-kampung melakukan demonstrasi meminta agar Abdul segera diadili.

“Dia diadili, dihukum 5 tahun. Tapi rakyat tidak setuju, tetap marah, maunya dihukum seumur hidup atau ditembak mati,” tutur Rizal.

Saking tidak terimanya, lanjut Rizal, pengadilan diporak-porandakan, penjara Abdul mau dijebol namun tidak bisa karena pintunya terbuat dari besi.

“Sebagian demonstran naik ke atas, turun ke bawah. Nah digebukin si Abdul ini, dia diselamatkan oleh security. Tapi langsung berkembang rumor bahwa dia diselamatkan oleh seorang pendeta,” sambungnya.

Rumor diselamatkan pendeta berkembang, lantaran tak jauh dari penjara memang berdiri sebuah gereja. Massa yang marah kemudian menghampiri dan membakar gereja. Malangnya, pendeta dan keluarganya dibakar dalam pengeroyokan itu.

“Inilah contohnya bahaya kasus seperti ini,” simpul Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu. [ian]  Selasa, 27 Desember 2016 , 17:50:00 WIB | Laporan: Bunaiya Fauzi Arubone

http://politik.rmol.co

***

Kerusuhan di Situbondo (Kasus Penistaan Agama Islam)

Kronologi peristiwa tanggal Kamis 10 Oktober 1996[3]

  • 10.00: Sidang di Pengadilan Negeri Situbondo Jalan Panglima Besar Sudirman mengenai pelecehan agama Islam dengan terdakwa bernama Saleh (agama Islam). Jaksa menuntut Saleh hukuman 8 tahun penjara. Hakim memvonis 5 tahun. 3000 massa protes, histeris.
  • 10.30: Pengadilan Negeri Situbondo dibakar dengan bensin diperoleh dari POM Bensin Jalan Panglima Besar Sudirman dekat pengadilan. Mobil dan sepeda motor yang dijumpai dibakar. Datang beberapa truk bermuatan 2000 (dua ribu) massa lebih dari arah barat.
  • 10.30-11.00: Massa membakar dan menghancurkan GBI (Gereja Bethel Indonesia) Bukit Sion yang berseberangan dengan Pom Bensin dan dilewati massa bila menuju Pengadilan. Tembok-tembok dijebol, semua perabotan dibakar hingga jadi abu, apalagi penyulutnya bensin yang berlimpah.
  • 11.00: Seluruh gereja dan institusi pendidikan Kristen di dalam Kota Situbondo dirusak dan/atau dibakar, dalam waktu relatif sama :
    • GPIB Jalan panglima Besar Sudirman, dirusak
    • TK St.Theresia/Susteran Santa Maria Jalan Jaksa Agung Suprapto, dibakar
    • GPdI Jalan Achmad Yani, dirusak
    • Gereja Katolik, dan 2 SMP Katolik dalam 1 lokasi (St.Yosef) di jalan Mawar, dibakar
    • SD Katolik Franciscus Xaverius di Jalan Mawar seberang Gereja Katolik dan SMP, dihancurkan
    • GBIS Jalan Ahmad Yani – Jalan Basuki Rachmad, dibakar
    • GSJP Jalan Argopuro Jalan Argopuro, dirusak
    • GPPS Jalan Basuki Rachmad, dibakar

Pembakaran dilakukan massa yang sudah menyebar di gereja-gereja tadi. Pada waktu bersamaan massa dari Pengadilan Negeri/GBI bergelombang di jalan raya. Massa dipecah menjadi 2 kelompok besar, kelompok yang satu bergerak terus ke arah Jl. A Yani, yang satu ke arah Jl.WR Supratman- Jl.Anggrek. Tak cukup hanya pejalan kaki, gelombang massa naik truk dan sepeda motor juga tampak. GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), Jl panglima Sudirman, hendak dibakar. Namun dilarang aparat Polres yang bersebelahan gedungnya dengan GPIB. Mereka pun hanya menghancurkan barang-barang, mengeluarkan perabot perabot gereja termasuk Alkitab dan membakarnya beramai-ramai di jalan raya, tak lupa meneriakkan yel-yel./ https://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan_Situbondo

***

Belajar dari HOS Tjokroaminoto, Penista Agama Langsung Ditangkap

Mantan Menko Maritim Rizal Ramli (kiri) bersama Sejarahwan Jose Rijal (kana) saat melakukan kunjungan ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, di Jakarta, Jumat (26/8/2016). Dalam kunjungannya Rizal Ramli meminta agar pemprov DKI lebih memperhatikan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin tersebut.


Jakarta, Aktual.com – Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menyinggung kasus penistaan agama di acara di DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (27/12).

Atas kasus tersebut, kata dia, memicu aksi besar-besaran yang dilakukan oleh umat muslim pada 4 November dan terakhir pada 2 Desember 2016. Terlebih, masyarakat saat ini sudah sangat kritis terkait dengan hal-hal yang sensitif seperti kasus penistaan agama.

Rizal berkisah pada awal tahun 20-an, Pulau Jawa pernah mengalami aksi besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Ketika itu HOS Tjokroaminoto memimpin langsung aksi, karena ada seorang pemuda muslim yang telah melakukan penistaan agama.

Ketika itu, lanjut ekonom senior ini, jumlah massa mencapai 35 ribuan, Surabaya yang ketika itu penduduknya hanya mencapai 300 ribu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Pemerintahan Belanda, dia bergerak cepat dan menangkap pelaku penista agama itu.

Kalau kita lihat yurisprudensinya, setiap kasus begini, langsung ditangkap karena membahayakan,” ujar dia.

Begitu pula, kritik dia, soal intelijen yang seolah menganggap enteng. Ini mengingat, jika sebuah isu sensitif seperti agama disentuh, maka yang menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar.

“Perkiraan intel, demonstrasi 4 November cuma 35 ribu menurut saya perkiraan itu wajar karena dilihat siapa organisasinya. Oh ini kemampuan organisasinya segini, maksimum 35 ribu atau 2 Desember perkiraannya berapa,” kata Rizal. (Wisnu)/aktl

***

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Contoh Kasus Bahayanya Penista Agama yang Tidak Segera Dihukum"


Top