Remaja Sakit Palestina Ini Akhirnya Meninggal Setelah Ditolak Israel


EPA/JIM HOLLANDER

Warga Palestina berjalan menuju bus setelah melintasi Jalur Gaza menuju Israel lewat perbatasan Erez

REPUBLIKA.CO.ID, Hassan Shubeir tak sanggup menahan tangis, setelah mengetahui putranya tak lagi bernyawa. Upaya membawa  ke rumah sakit tak membuahkan hasil. 

"Saya bangun dan putra saya Ali berkata bahwa Ahmed tak bisa bernapas. Saya mencoba untuk membawa ke rumah  sakit al-Shifa Hospital," ujarnya kepada Middle East Eye.

Dokter mencoba menolongnya dengan bantuan oksigen dan pengejut jantung. Namun jantungnya yang terlalu lemah tak  bisa lagi bertahan. Ahmad meninggal pada 14 Januari lalu di usia ke-17.

Menurut keterangan dokter yang merawat Ahmed di Gaza, pemuda itu seharusnya masih hidup saat ini andai saja ia diizinkan untuk melakukan operasi di Israel. Di sana, ia bisa mendapat katup jantung baru.

Warga Palestina di Jalur Gaza yang sakit kesulitan untuk mendapat perawatan medis menyusul blokade Israel sejak 2007 lalu. Alat kesehatan di rumah sakit di Gaza sangat terbatas.

"Kita menyaksikan kematian semakian dekat dengan Ahmed tanpa bisa berbuat apapun, ini perasaan sulit bagi kami orang tua," ujar Shubeir.

Sejak September 2016, otoritas Israel berulangkali menolak Ahmed masuk dari perbatasan Erez di Gaza. Ini setelah ia tak mau bekerja sama dengan Israel untuk memberikan informasi tentang pejuang Palestina.

Ibu Ahmed tak kuasa menahan kepedihan. Begitupula Ali yang sangat dekat dengan Ahmed cukup terkejut dengan kabar duka tersebut.

Teman-teman Ahmed di sekolah juga berduka dan tak percaya ia telah tiada. "Ahmed adalah teman baik saya. Kami berbagi satu meja di kelas," ujar Ahmed al-Afghany (17 tahun).

Category: Internasional
No Response

Leave a reply "Remaja Sakit Palestina Ini Akhirnya Meninggal Setelah Ditolak Israel"